KISAH SEEKOR ULAR DAN ANJING
Oleh : Samsul Nizar
Dikisahkan, seorang petani sedang menanam padi di sawah. Tiba-tiba, seekor ular menggigit kakinya. Karena kasihan, petani memberinya sebutir telor. Keesokan hari, ular tersebut kembali menggigitnya.
Meski si petani mengeluh kesakitan, ia tetap memberinya seekor tikus. Petani tau jika ular tersebut menggigitnya karena kelaparan. Untuk itu, setiap ular mengigitnya, ia selalu memberinya makanan yang lebih besar dan enak. Akibatnya, si ular "ketagihan". Setiap hari, si ular menunggu kehadiran petani dan berharap mendapatkan tumpukan makanan yang besar dan lezat.
Namun, akibat sering digigit ular, si petani jatuh sakit dan tak bisa ke sawah. Hampir 1 (satu) bulan si petani tak bisa ke sawah. Melihat petani yang ditunggu tak datang, si ular mulai mengarang cerita pada teman-temannya tentang keburukan, aib, dan berbagai cerita negatif lainnya tentang si petani. Si ular berbuat demikian karena kecewa. Sebab, ia tak bisa memperoleh makanan dan keuntungan dari si petani.
Berbeda kisah yang terjadi pada seorang pelayan kaisar Romawi. Meski telah lebih 30 tahun melayani kaisar, tapi si pelayan justeru di hukum mati karena melakukan kesalahan kecil (ringan). Ia dihukum menjadi santapan anjing istana yang terkenal galak. Menyadari dan mengetahui hal tersebut, si pelayan minta penangguhan eksekusi. Ia bermohon pada raja agar diberi kesempatan untuk mengurus anjing-anjing istana yang galak sebelum ia disantap. Mempertimbangkan jasa si pelayan, raja mengabulkan permintaan tersebut.
Selama 10 hari, si pelayan mengurus dan memberi makan anjing-anjing istana dengan telaten, sabar, dan penuh kasih sayang. Setelah tenggat waktu penangguhan eksekusi habis, si pelayan akhirnya dimasukan ke dalam kandang anjing-anjing istana yang terkenal beringas. Kaisar berharap tubuh pelayan tersebut akan dicabik-cabik oleh kawanan anjing istana yang terkenal sadis. Namun, alangkah terkejutnya kaisar. Ketika si pelayan dimasukan dalam kandang, semua anjing mengelilingi dan bercanda sembari mengibas-ngibaskan ekornya. Kaisar bertanya, "kenapa anjing-anjing istana yang terkenal galak tak menyerangmu hai pelayan ?". Dengan tenang si pelayan menjawab, "selama 10 hari, anjing-anjing ini ku rawat dengan penuh kasih sayang dan ku beri makan dengan telaten.
Anjing-anjing ini begitu kenal dan berterimakasih padaku yang telah mengurusnya selama 10 hari. Tapi, balasan kaisar justeru sebaliknya. Meski 30 tahun aku telah melayanimu, tapi karena kesalahan ringan, pengabdianku tak pernah dihargai. Anjing tau balas budi tapi manusia acap-kali lupa diri". Mendengar penjelasan si pelayan, kaisar menjadi sadar dan malu atas sikapnya yang tak tau balas budi. Raja mohon maaf atas kekeliruannya dan mengampuni kesalahan kecil si pelayan.
Dua kisah di atas merupakan cerita rakyat klasik yang disampaikan turun temurun. Tapi, cerita tersebut tak pernah mampu menyadarkan manusia sampai kiamat. Belajar dari 2 (dua) kisah di atas, manusia disuguhkan pelajaran sekaligus "tamparan" yang begitu berharga, yaitu :
Pertama, seekor ular mengajarkan, ketika ada orang yang selalu mendekat, tampil "sok akrab", memelas dan menghiba, acapkali hanya kamuflase untuk memperoleh keuntungan semata. Ia "merayap" seakan tak mematahkan ranting, tapi ketika ada peluang, ia tak sungkan membelit, meng-gigit, menelan, dan menyebarkan fitnah bila keinginannya tak diperoleh atau telah tercapai. Ia tak peduli atas jasa orang yang pernah menolongnya. Baginya --tujuan utama-- asal perut kenyang dan hidup senang. Ia selalu berganti "kulit", warna, dan pendekatan, tapi substansi sifat asli-nya tetap karakter seekor ular.
Kedua, perilaku ular terhadap petani me-nyampaikan pesan bahwa orang yang tak tau berterimakasih akan melupakan sejuta kebaikan. Ia lupa pada "tangan-tangan" yang pernah menolong dan membuatnya "kenyang". Sungguh karakter manusia yang tak tau balas budi dan lupa diri acapkali melupakan sejarah, air susu dibalas tuba. Begitu mudah melupakan dan meng-hilangkan sejuta kebaikan bak "debu yang ditiup angin". Baginya, tak ada kebaikan atau keburukan yang abadi, kecuali hanya kepentingan (hajat) diri lebih utama.
Kehadiran karakter manusia yang tak tau berterimakasih telah diingatkan Rasulullah ﷺ dalam sabdanya : “Tidak dikatakan bersyukur pada Allah bagi siapa yang tidak tahu berterimakasih pada sesamanya” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi).
Begitu aneh umat akhir zaman. Lisannya bersaksi umat Nabi, tapi hati dan perilaku begitu nyata menafikannya. Sifat yang demikian telah dijelaskan Allah dalam firman-Nya : "Sebagian manusia berkata, ‘Kami beriman kepada Allah dan hari akhir', padahal mereka tidak beriman” (QS. al-Baqarah : 8).
Menurut Ibnu Katsir, ayat di atas menjelas-kan karakter kaum munafik. Mereka mengaku beriman, namun hatinya ingkar. Ayat ini turun menjelaskan sifat orang munafik di Madinah. Mereka adalah Abdullah bin Ubay bin Salul dan pengikutnya. Mereka pura-pura beriman demi keamanan diri dan harta bendanya. Hal serupa juga terjadi sepanjang sejarah manusia yang menggunakan "jurus munafik" untuk kepentingan diri.
Ketiga, kumpulan anjing yang ganas masih tau berterimakasih atas jasa orang yang pernah membantu dan memeliharanya. Wajar bila anjing ashabul kahfi dijanjikan sebagai penghuni surga. Sebab, ia setia menjaga kebenaran. Karakter anjing istana yang tau berterimakasih dan ingat jasa baik orang telah mengimplementasikan sabda Rasulullah ﷺ : "Barangsiapa yang memperoleh kebaikan dari orang lain, hendaknya dia membalasnya. Jika tidak menemukan sesuatu untuk membalasnya, hendaklah dia memujinya (mendoakan). Jika dia memujinya, sungguh dia telah bersyukur kepada-Nya. Dan barangsiapa yang menyembunyikan kebaikan, sungguh dia telah kufur (terhadap nikmat)" (HR. Tirmidzi dan Abu Daud).
Sementara, manusia yang konon berilmu justeru tak tau diri dan lupa berterimakasih pada orang yang pernah menolongnya. Semua bantuan hilang bak "sifat ular yang lupa kebaikan petani". Ia akan mencari "induk semang" baru yang menjanjikan "makanan enak" untuk mengisi perutnya. Demikian seterusnya sampai mulutnya terisi dengan tanah dan kembali ke tanah.
Namun, manusia yang berkarakter ular akan bertemu "induk semang" berkarkter serupa. Tapi ia lupa "tak ada makan siang yang gratis". Hal ini terlihat pada kisah mitologi Yunani kuno. Adalah Cassandra sang putri Troya. Kecantikannya membuat Dewa Apollo bermurah hati menganugerahkannya kecerdasan yang mampu meramal masa depan. Tapi, kebaikan Dewa Apollo ada maksud yang tersembunyi. Ternyata, sang dewa ingin menikahi Cassandra, tapi cintanya ditolak. Akibatnya, semua kelebihan dan kecerdasan Cassandra "dikutuk" sang dewa. Semua nasehat kebenaran yang disampaikan Cassandra selalu ditolak dan dibenci rakyat. Ternyata, Dewa Apollo berbuat baik karena ada "ada udang di balik batu". Tersimpan keinginan culas, licik, dan maksud tersembunyi.
Kisah dan mitologi di atas bersandingan dengan katakter dan perilaku nyata. Bak Dewa Apollo yang "bersembunyi" pada statusnya. Manusia selalu mencari alibi "pembenaran". Retorika dan asesoris kesalehan tampil begitu anggun untuk me-nutupi kesalahan. Bila cara kemunafikan ini terus dilakukan, maka kebenaran hakiki tak akan pernah ditemui. Sebab, kebenar-an hakiki tak memerlukan pembenaran yang dipaksakan oleh keinginan. Sebab, kebenaran hadir pada manusia yang dekat pada Allah sebagai pemilik diri yang benar.
Karakter kisah-kisah di atas seakan telah terjawab melalui fenomena"sunnatullah". Sebab, semua karakter akan dipertemukan sesuai pasangan "induk semang" yang memiliki sifat serupa. Hal ini diingatkan melalui tamsilan pada firman-Nya : "Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula)..." (QS. an-Nur : 26).
Menurut Ibnu Katsir, meski ayat di atas menjelaskan prinsip kesetaraan (kafa'ah) jodoh, tapi berlaku pula pada kesetaraan karakter. Manusia baik untuk orang baik dan demikian pula sebaliknya. Ayat ini turun terkait fitnah terhadap Aisyah RA. Ayat ini menegaskan kesuciannya dari tuduhan keji dan menjanjikan ampunan serta rezeki mulia bagi mereka.
Pertemuan dan pertemanan sifat manusia yang berkarakter setara dijelaskan oleh Rasulullah ﷺ dalam sabdanya: "Seseorang itu tergantung pada agama teman dekatnya, sehingga setiap individu hendaknya memperhatikan siapa yang dijadikan teman dekatnya" (HR. Ahmad dan Abu Dawud).
Ketika teman memiliki adab, maka ia akan beradab. Tapi, bila teman yang mengeli-linginya berkarakter toxic dan manipulatif, maka akan terbangun karakter serupa, bahkan berpotensi lebih nista.
Melihat kisah-kisah yang dinukilkan di atas, terkandung pelajaran berharga.
Meski sebatas kisah fiksi dan mitologi, tapi begitu jelas nyata dan terus terjadi.
Fenomena kisah-kisah di atas begitu nyata, terutama terlihat pada "posisi dan status". Ketika posisi berada di atas, sejuta tangan menyambut dengan tepukan yang menggema, seakan tanpa dosa. Namun, ketika posisi di bawah, kata pujian berubah celaan dan fitnah penuh nista. Begitu sifat manusia yang dipesankan dalam kata bijak "tak ada teman sejati, tak ada musuh yang abadi, kecuali hanya ada kepentingan yang menjanjikan posisi dan pundi-pundi". Ketika itu, engkau akan melihat kenyataan bahwa "sepasang tangan yang diulurkan ketika engkau di bawah lebih mulia dibanding sejuta tangan yang menyambutmu ketika dipuncak kejayaan". Fenomena nyata yang memperlihatkan kualitas watak dan karakter manusia yang sebenarnya. Wa Allahua'lam bi al-Shawwab.***
Prof Samsul Nizar adalah Guru Besar IAIN Datuk Laksemana Bengkalis
Sumber: jawapos.com
TEGUHKAN HATI, BERSIHKAN WAJAH
Oleh: Ibnu Majid
“Dan tiap-tiap berita dari berita Rasul-rasul itu, kami ceritakan kepadamu (wahai Muhammad), untuk menguatkan hatimu dengannya. Dan telah datang kepadamu dalam berita ini kebenaran dan pengajaran serta peringatan bagi orang-orang yang beriman.” - [Surah Hud, ayat 120] Ayat 120 dalam Surah Hud membawa pengajaran penting, yang harus diperhati oleh setiap muslim.
Berita atau khabar besar dalam Al-Qur’an bukanlah untuk dibaca sahaja, sebaliknya perlu ada tindakan aktif oleh pembacanya – sama ada seseorang itu wajib berhenti melakukan dosa dan larangan Allah, atau perlu melaksanakan perintah Allah SWT sebaik mungkin. Kisah Nubuwwah yang terkandung di dalam Surah Hud juga sentiasa relevan dengan keadaan masyarakat semasa.
Apa yang terjadi zaman dahulu, masih lagi terjadi pada zaman sekarang. Orang Islam tidak boleh melihat kisah Nabi Nuh AS sebagai hanya kisah sejarah sahaja, tetapi wajib ambil pengajaran daripada kisah baginda ini.
Dengan setiap kisah-kisah itu, Allah SWT teguhkan hati orang-orang yang mahu mengambil pengajaran darinya. Maka tujuan kisah-kisah itu disampaikan kepada manusia untuk meneguhkan hati. Mengapa harus teguhkan hati dan bukan tubuh badan? Ia kerana menjalankan
kerja-kerja dakwah memerlukan hati yang teguh dan kental. Ia bukan bidang bagi orang yang lemah jiwanya. Hati seseorang jugalah yang menerima kalimat kebenaran, memberi respon kepada peringatan Allah SWT, serta tunduk kepada keagungan nasihat yang terkandung dalam Al-Quran. “Dan kalau Kami tidak memperkuat (hati) mu, nescaya kamu hampir-hampir condong sedikit kepada mereka. - [Surah Al-Isra’, ayat 74]
Seandainya bukan kerana Allah SWT, maka tidak ada seorang pun yang teguh pendiriannya di atas Islam serta jalan dakwah yang dipenuhi ujian ini, dan sudah tentulah manusia tidak bersabar terhadap tuntutan kebenaran dan risalah sebesar apapun kemampuan dan kekuatannya. Demikian doa Nabi SAW yang bermaksud; “Ya ALLAH, Tuhan yang membolak-balikkan hati-hati, tetapkanlah hatiku pada agamaMu.” - [HR at-Tirmidzi No.3522, Ahmad VI/302, 315 dan al-Hakim I/525]
Justeru kita mempelajari daripada kisah nubuwwah dan mengambil semangat mereka, untuk teguhkan hati dalam berdakwah. Kisah-kisah ini telah memberi semangat kepada Nabi Muhammad SAW dan para sahabat, maka setiap muslim seharusnya mempunyai semangat yang tinggi.
Di dalam kisah-kisah Nabi itu juga ada peringatan. Peringatan adalah kepada perkara yang kita sudah tahu, tetapi diingatkan selalu oleh kerana perangai manusia yang sering terlupa. Al-Qur’an perlu dibaca selalu, dan difahami kisah-kisahnya, supaya dapat menjadi peringatan di dalam hidup setiap muslim. Kisah-kisah di dalam Al-Quran mampu menjadi pengajaran dan peringatan
kepada setiap orang, tetapi yang mengambil manfaat daripadanya adalah orang-orang beriman sahaja. Hanya mereka yang mahu mencari kebenaran dan kerana itu mereka boleh beroleh kebaikan daripada kisah-kisah itu.
Pada hari kiamat ketika seluruh manusia dibangkitkan dari kematian mereka akan membasuh wajah mereka sebagaimana kebiasaan orang yang bangun tidur membasuh wajahnya. Mereka yang hanya tergores sedikit kesalahan jiwanya dapat kembali disucikan, namun mereka yang telah menghitamkan jiwanya akan semakin berada di palung kegelapan.
Jangan biarkan kegelapan cinta dan dunia fana memperdaya diri, sebagaimana tipu daya penjual dan penimbangnya. Sedarlah dan hilangkan warna gelap dari wajah sendiri. Jangan dibiarkan kegelapan warna beradu dengan warna asli wajah kita, hingga menjadi warna yang sama. Segeralah bersihkan wajah dari kegelapan yang menyesatkan itu.
Sesungguhnya di hari kiamat nanti, seorang hamba tidak dapat melarikan diri dari peradilan sehingga menjawab tiga pertanyaan. Pertama, bagaimana engkau menghabiskan umurmu yang berharga? Kedua, bagaimana engkau melewati masa mudamu? Ketiga, dari mana engkau peroleh dan untuk apa kau belanjakan hartamu?
“Pada hari dilihatkan segala rahsia.” - [Surah At-Taariq, ayat 9] Sememangnya seorang manusia itu banyak rahsia. Banyak perkara yang dilakukan oleh pemimpin, persatuan, parti politik, dan sebagainya, dirahsiakan daripada orang awam. Kadangkala rahsia itu terbongkar di dunia, dan memberi kejutan kepada masyarakat di luar.
Namun ada rahsia yang ditutup oleh Allah SWT di bumi, tetapi akhirnya akan terbongkar juga di akhirat nanti. Inilah bentuk hukuman Allah yang paling dahsyat, kerana orang itu tidak diberi peluang untuk bertaubat di dunia, dan balasan kepadanya di akhirat adalah sangat pedih. Keselamatan di dunia tidak menjaminkan keselesaan di akhirat kelak.
Sekularisme telah mempengaruhi masyarakat untuk melihat politik atau kepimpinan semata-mata ruang untuk mendapat habuan dunia, bukan untuk memikul tanggungjawab mendidik dan memimpin masyarakat kepada kesejahteraan dan barakah. Setelah sekian lama, sampai masa untuk setiap muslim bermuhasabah. Bukan sahaja pemimpin, malah rakyat jelata juga tidak terlepas daripada hisab di akhirat. Kembalilah kepada prinsip Islam dalam memilih pemimpin. Pilihlah pemimpin yang tidak mengejar kedudukan untuk bersenang-lenang, tetapi atas rasa tanggungjawab kepada Allah dan sesama manusia.
Saidina Umar ketika diminta untuk menggantikan Saidina Abu Bakar as-Siddiq, telah menghunus pedang dengan berkata; “Kalau aku bengkok, luruskan aku dengan pedang dan jika kamu bengkok, aku juga akan meluruskan kamu dengan pedang ini.”
Hayati sabda Nabi SAW berkaitan kelebihan dan ancaman kepada pemimpin yang bermaksud; “Tidaklah seseorang diamanahkan memimpin sesuatu kaum kemudian dia meninggal dalam keadaan berkhianat terhadap rakyatnya, maka diharamkan baginya Syurga.” - (HR Bukhari dan Muslim)
BAHAYA PERBUATAN MUBAZIR
Oleh : Ustadz Wandi Bustami Lc MAg
SECARA bahasa, mubazir (التَّبْذِيْرُ) bermakna menggunakan nikmat Allah Subhanahu Waatala secara berlebihan, atau pada hal-hal yang tidak berfaedah. Mubazir bukan hanya pada harta, tetapi waktu, tenaga, pikiran atau perbuatan-perbuatan yang tidak mendatangkan maslahat bagi kehidupan dunia dan akhirat.
Memiliki sesuatu yang tidak dibutuhkan bagian dari mubazir. Sifat ini selalu dikaitkan dengan perbuatan kufur, karena termasuk menyia-nyiakan pemberian Allah Subhanahu Waatala. Al-Qur’an yang mulia secara tegas melarangnya.
Allah Subhanahu Waatala berfirman:
وَاٰتِ ذَا الْقُرْبٰى حَقَّهٗ وَالْمِسْكِيْنَ وَابْنَ السَّبِيْلِ وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيْرًا ٢٦
Dan berikanlah haknya kepada kerabat dekat, juga kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan; dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. (QS. Al-Isra’: 26)
Makna penggalan ayat ‘janganlah kamu menghamburkan-hamburkan (hartamu) secara boros’ ialah suatu larangan membelanjakan harta kepada hal-hal yang tidak halal dan tepat penggunaannya. (Musthafa Al-Khairi Al-Manshûrî, Al-Muqtathof fi Uyûnittafâsîr, 3/190). Menurut Lajnah Dâimah, mengeluarkan harta di luar kebutuhan termasuk perbuatan haram dan makrûh. (Penyusun Ahmad Abdurrazâk Ad-Duwais, Fatâwâ Al-Lajnah Ad-Dâimah li buhûshil ilmiyyati wal iftâi, 21/149).
Berdasarkan penjelasan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa dalam menggunakan harta seseorang harus memperhatikan cara dan tujuan. Sebab hari ini betapa banyak ada orang yang mengeluarkan hartanya namun tidak mengerti untuk apa harta dibelanjakan sehingga kemudian membeli sesuatu yang tidak dibutuhkan seperti memiliki sepeda motor, tas, jam tangan, dan sepatu brandid serta asesoris lainnya jenis yang sama dalam jumlah yang banyak. Padahal apa setiap perbuatan akan dipertanggungjawabkan di akhirat kelak.
Allah Subhanahu Waatala berfirman:
كُلُّ نَفْسٍۭ بِمَا كَسَبَتْ رَهِينَةٌ
Setiap jiwa bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya. (QS. Al-Muddatsir: 38)
Imam Al-Baihaqi dalam Syu’abil Imân, dari sahabat Ali bin Abi Thalib berkata: Apa yang engkau belanjakan untuk dirimu dan keluargamu secara benar merupakan sedekah bagimu, namun bila semua itu engkau lakukan karena riya’ (dilihat) dan sum’ah (ingin didengar) sungguh engkau telah masuk perangkap setan. (As-Syakânî, Fathul Qadîr, hlm 1047).
Dalam ayat lain, Allah Subhanahu Waatala secara tegas menyatakan bahwa sifat boros ini bukan sekadar dilarang atau makruh, tetapi pelakunya adalah teman setan.
Allah Subhanahu Waatala berfirman:
اِنَّ الْمُبَذِّرِيْنَ كَانُوْٓا اِخْوَانَ الشَّيٰطِيْنِۗ وَكَانَ الشَّيْطٰنُ لِرَبِّهٖ كَفُوْرًا ٢٧
Sesungguhnya orang-orang yang pemboros itu adalah saudara-saudara setan dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya. (QS. Al-Isra’: 26-27)
Dalam ayat tersebut, orang yang mubazir disebut sebagai saudara setan karena mereka sama-sama menggunakan nikmat Allah pada jalan yang salah dan tidak bersyukur kepada-Nya. Setan dikenal sebagai makhluk yang ingkar kepada Allah, sedangkan orang yang boros juga menunjukkan sikap tidak menghargai nikmat dengan menghamburkan harta, waktu, atau karunia lain tanpa manfaat dan tanpa tujuan yang benar.
Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:
كُلُوا وَاشْرَبُوا وَالْبَسُوا وَتَصَدَّقُوا فِي غَيْرِ سَرَفٍ وَلَا مَخِيلَةٍ
Makanlah, minumlah, berpakaianlah, dan bersedekahlah tanpa berlebih-lebihan dan tanpa kesombongan. (HR. An-Nasa’i dan Ibnu Majah)
Hadis ini menunjukkan bahwa sifat boros (السرف) sering berkaitan dengan kesombongan (المخيلة), karena seseorang terkadang berlebih-lebihan dalam menggunakan harta demi pamer, gengsi, atau merasa lebih tinggi dari orang lain.
Mubazir merupakan perilaku atau perbuatan tercela yang dilarang dalam Islam karena termasuk bentuk penyalahgunaan nikmat Allah Subhanahu Waatala. Sifat ini tidak hanya berkaitan dengan pemborosan harta, tetapi juga meliputi penyia-nyiaan waktu, tenaga, pikiran, dan berbagai potensi yang tidak digunakan untuk kemaslahatan. Al-Qur’an menegaskan bahwa orang yang mubazir adalah saudara setan, karena sama-sama tidak mensyukuri nikmat dan menggunakan karunia Allah Subhanahu Waatala pada jalan yang salah.***
Sumber: kiblatriau.com
SEBILAH PISAU; PILU HARDIKNAS
Oleh : Samsul Nizar (Guru Besar IAIN Datuk Laksemana Bengkalis)
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pisau adalah bilah besi tipis, tajam, dan bertangkai. Ia merupakan alat pengiris dan pemotong. Eksistensinya begitu diperlukan dalam kehidupan sehari-hari. Namun, tak semua hamba-Nya berkesempatan untuk merenung dan mengambil pelajaran dari sebilah pisau.
Ada beberapa filosofi sebilah pisau yang perlu jadi renungan bagi dunia pendidikan di momentum HARDIKNAS, antara lain :
Pertama, Pisau mengajarkan bahwa hidup perlu ditempa melalui ujian (penempaan). Mulai besi yang tak bernilai, dibakar api menyala, dipukul, dan diasah. Melalui proses yang panjang dan penuh kesabaran dan skill si pandai besi, pisau semakin tajam. Sebilah pisau di tangan manusia yang bijak dan amanah akan memberi manfaat, bukan merusak. Sebab, pisau melambangkan ketajaman mental, kekuatan, tanggungjawab, dan kemampu-an untuk "memotong" setiap hambatan hidup dengan solusi cerdas dan bijaksana.
Dalam Islam, kehidupan manusia memang dirancang-Nya sebagai proses penempaan (tarbiyah dan riyadhah). Hal ini bertujuan untuk membentuk karakter, kualitas iman, dan memurnikan tauhid. Hal ini dinyatakan Allah melalui firman-Nya : "yaitu yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya..." (QS. al-Mulk : 2).
Menurut Ibn Katsir, kehidupan penuh ujian. Buah ujian selama hidup akan dipetik setelah kematian. Untuk itu, manusia bagaikan pisau yang ditempa agar "tajam" dan bermanfaat selama di dunia. Perlu keteliti-an dan kesabaran agar tugas kekhalifahan yang diamanahkan membawa manfaat bagi seluruh alam (QS. al-Baqarah : 30). Tapi, manusia acapkali mengambil jalan pintas dan menghalalkan segala cara. Semua dilakukan tanpa proses normal.
Kedua, Tajam ke bawah, tumpul ke atas. Pamer dan ingin dikenal oleh sesama, tapi tak kenal dan dikenal oleh Allah. Sebab, manusia acapkali lupa atas ayat-Nya. Kadangkala, ketajaman pisau hanya di bawah, membuat pemiliknya lupa diri dan berbuat kezaliman. Ketajaman pisau hanya fokus untuk "mencabik-cabik objek di bawah". Tapi, manusia acapkali lupa, bila Allah membuka aibnya, pisau yang tajam di bawah bisa melukai dan memotong jarinya. Meski semua bukti begitu nyata, tapi "pisau bermata tunggal" tetap tajam untuk melukai "objek di bawah" dan tumpul pada "objek di atas". Ketika kebenaran Ilahi terbuka dan sang penjaga hukum "teriris" oleh pisau yang digunakannya, tak membuat efek jera. Hanya berganti "baju, tanpa merubah isi". Padahal, pelanggaran yang terjadi begitu nyata, tapi tak mau dilihat.
Begitu aroma busuk terkuak, hanya kata "maaf dan siap salah" meluncur ringan tanpa beban. Meski hanya dilakukan segelintir oknum, tapi ia bak sembilu yang menyayat moral institusi (kelembagaan). Wujud kegagalan sistemik pendidikan yang begitu nyata, tanpa ada yang peduli.
Fenomena penegakan aturan (hukum) begitu "tajam" dilingkungan rakyat kecil, tapi acapkali "sangat tumpul" pada komunitas "ruang hampa udara" di luar angkasa. Padahal, sosoknya sangat mengerti aturan (hukum positif maupun agama). Namun semakin nyata pelang-garan dilakukannya. Jika pepatah leluhur mengatakan "guru kencing berdiri, murid kencing berlari" seakan sudah biasa. Tapi, kekhawatiran justeru mengarah ketika "guru kencing berlari dianggap biasa dan dipuja, tapi murid kencing berdiri dianggap hina dan perlu diadili". Padahal, pepatah lain mengatakan "air cucuran atap jatuh-nya ke pelimbahan juga". Artinya, kejahat-an level bawah hadir meniru perilaku level atas. Aneh bila "guru" mengajarkan dan mempraktekan "ingkar aturan", tapi mengharapkan "murid" taat aturan. Meski semua begitu jelas dipertontonkan, tapi tak ada yang mau dan mampu meluruskan-nya. Atau mungkin Allah ingin memperlihatkan kebiasaan hamba culas yang selama ini disembunyikan. Kelak azab-Nya yang sangat pedih akan menimpa para pelaku kezaliman (QS. asy-Syura : 42).
Mungkin benar pepatah Jepang pernah mengatakan "tempat yang paling gelap adalah di bawah cahaya lampu" (toudai moto kurashi). Bagi manusia berakal, pepatah ini sangat tajam melebihi sembilu. Pepatah ini menjelaskan betapa sulit menyadari dan melihat kesalahan yang berada ditempat yang terang dan dilaku-kan di depan mata. Padahal, begitu jelas terlihat kesalahan yang terjadi meski dilihat jauh melintasi alam semesta. Tapi tak ada yang peduli, apatahlagi berani menyebutnya sebagai sebuah kesalahan. Ternyata, kejahatan yang paling dekat atau akrab justru menjadi hal yang paling tidak diperhatikan dan diperdulikan. Apalagi di-tempat suci dan suluh bagi keadilan. Akibatnya, kejahatan justeru tampil leluasa dan anggun sebagai sebuah kebaikan.
Sungguh, karakter manusia bak pisau yang hanya tajam di bawah dan tumpul di atas menghadirkan kezaliman dan ketidakadilan. Untuk itu, Rasulullah ﷺ secara tegas mengingatkan pentingnya menegakkan keadilan (hukum) tanpa pandang bulu. Hal ini tertuang dalam sabdanya : "Sesungguhnya yang (telah) membinasakan orang-orang sebelum kalian adalah ketika orang mulia di antara mereka mencuri, mereka membiarkannya. Namun jika orang lemah di antara mereka mencuri, mereka menegakkan hukum atasnya. Demi Allah, sekiranya Fatimah binti Muhammad mencuri, niscaya aku sendiri yang memotong tangannya" (HR. Bukhari dan Muslim).
Demikian tegas dan jelas Rasulullah meng-ingatkan umatnya dalam menegakkan keadilan. Namun, umat Rasulullah acapkali hanya sekedar berharap syafaat tapi khianat, posisi umat tapi sebatas siasat, tampil saleh tapi hobinya berbuat salah, mulut manis tapi berbisa, perilaku beradab tapi hati biadab, dan seakan ikhlas tapi serakah tanpa batas. Tuntunan Rasulullah hanya dijadikan sebatas "permainan". Larangan dan perintah hanya untuk dipersendaguraukan. Meski kesalahan begitu nyata, tapi tak ada yang mau peduli. Semua terpaku oleh gemerincing pundi dan gemuruh puji yang membahana.
Ketiga, Runcing ke depan, rata dan tumpul di belakang. Kesalahan orang (di depan mata) terlihat nyata. Tapi, kesalahan diri tak pernah mau diakui, tak mau peduli, dan "goyang kaki" menikmati "posisi". Padahal, Rasulullah ﷺ pernah mengingatkan : "Tolonglah saudaramu yang berbuat zalim dan yang dizalimi." Seorang sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah, saya menolong orang yang dizalimi, tapi bagaimana menolong orang yang berbuat zalim ?" Rasulullah ﷺ menjawab, "Engkau mencegahnya dari berbuat zalim, itulah cara menolongnya" (HR. Bukhari).
Menilik hadis di atas sulit dilaksanakan. Sebab, pelaku kezaliman sulit dan tak pernah mau diingatkan (diluruskan). Sebab, kebenaran telah tertutup baginya. Hal ini diingatkan oleh Allah dalam firman-Nya : "Allah telah mengunci mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat pedih" (QS. al-Baqarah : 7).
Menurut Ibn Katsir, ancaman pada ayat di atas disebabkan oleh penolakan terhadap kebenaran. Akibatnya, mereka tidak dapat menerima petunjuk dan diancam dengan siksaan yang sangat pedih (QS. al-Buruj : 10).
Dalam teori hukum, dikenal adagium "fiat justitia ruat caelum" (hendaklah keadilan ditegakkan, walaupun langit akan runtuh). Adagium indah sebatas konsep, namun "menguap" bak amonia di ruang terbuka. Persoalan terang saja tak terlihat, apalagi tersembunyi di tengah gelapnya malam.
Meski semua kemungkaran begitu nyata, tapi tak ada yang peduli. Bahkan, kemung-karan terkesan dibiarkan. Bukan berarti tak ada yang mengerti (berilmu). Mungkin, ada beberapa alasan berbagai kemungkaran yang kasat mata dibiarkan dan tak lagi dipeduli, yaitu : (1) takut bila "pisau-pisau" tersebut akan melukai. (2) "pisau-pisau" sudah menutup "mulut kebenaran" dengan berbagi hasil upeti yang menjijikan. (3) ketidakpeduliannya sebagai cara untuk "menyembunyikan boroknya". Sebab, ternyata ia adalah pelaku atau ikut melakukan kemungkaran.
Berbahagialah manusia yang memiliki kemerdekaan dalam menegakan amar ma'ruf nahi munkar (mengajak kebaikan dan mencegah keburukan). Mereka telah dijanjikan-Nya sebagai manusia terbaik (khaira ummah), penolong sesama mukmin, dan orang-orang yang beruntung. Kemuliaan ini didasarkan pada QS. Ali 'Imran : 104 dan 110 ; serta QS. at-Taubah : 71.
Pilihan selalu diberikan Allah pada hamba-Nya yang beriman. Senantiasa memetik pelajaran pada setiap fenomena sebagai ayat-Nya. Tapi, pilihan yang diberikan-Nya acapkali ditolak oleh hamba yang kufur, fasik, dan mendurhakai-Nya. Bila demikian, teruskanlah berbuat kemungkaran, keserakahan, kezaliman, kemunafikan, dan kesombongan di muka bumi. Mungkin pilihan tersebut akan memuaskan nafsu iblis yang subur dalam hati. Na'uzubillah.
Meski eksistensi pisau menyisakan makna negatif, namun pisau tak bisa menentang kehendak-Nya. Pada saatnya, "pisau-pisau" akan diminta pertanggungjawabannya di-hadapan Allah Yang Maha Adil. Ketika saat itu terjadi (pengadilan-Nya), "pisau-pisau" akan kehilangan arogansi atas ketajaman yang dibanggakannya selama ini. Ketika itu, "sang pisau" telah berkarat dan hanya mampu merintih pilu dalam penyesalan tanpa pernah memperoleh ampunan-Nya (QS. al-An'am : 27). Hanya saja, manusia acapkali menafikan ajaran agama dengan berperilaku secara berlawanan. Membantu bila ada pundi dan maksud tersembunyi, meski wujud kesalahan. Tapi, bila bantuan tanpa "bingkisan", maka kebenaran dinilai kesalahan. Ibn Khaldun pernah berkata, "suatu saat kejahatan menjadi profesi dan pelakunya dihargai dan dihormati. Aneh-nya, pemilik kebenaran dibenci dan diang-gap sampah yang harus disingkirkan". Sebilah pisau menjelaskan kualitas dan karakter produk pendidikan (mutu atau pilu). Bukan hanya sebatas dimensi man-faat (ilmu, gelar dan ijazah), tapi dampak kemudharatan (ketidakadilan dan kezalim-an) yang ditimbulkannya bagi semesta. Wa Allahua'lam bi al-Shawwab.***
Sumber: Terbit di Kolom Betuah harian Riau Pos Online tgl. 4 May 2026
PEMIMPIN YANG SEDAR
Oleh: Drs. H. Ahmad Yani
Abdullah Al Imari hidup pada masa Khalifah Harun Ar Rasyid di Baghdad, Irak. Kepribadiannya dikenal sebagai orang yang sangat tekun dalam beribadah, luas ilmunya, dan semua orang dianggapnya sama dihadapan Allah swt. Alhasil, siapapun orangnya, ia tidak takut kepada orang itu kecuali hanya kepada Allah swt. Dengan kepribadian seperti itu, Abdullah dihormati dan disegani orang, meskipun ia termasuk orang yang miskin dari sisi harta.
Ketekunannya dalam ibadah nampak dari begitu rajinnya dalam membaca dan mengkaji al-Quran, serta berziarah kubur agar ingat kehidupan akhirat. Ketika seseorang bertanya tentang hal itu, ia menjawab, "Aku tidak mendapatkan sesuatu yang lebih mampu memberi nasihat, selain kuburan. Juga tidak ada yang lebih menenteramkan hatiku, kecuali al-Quran."
Kepada setiap orang ia menganjurkan agar melaksanakan amar makruf dan nahi munkar. Bila tidak, kebesaran Allah hilang dari dirinya. Itu sebabnya, siapa pun yang bertindak tidak benar, sebagai salah seorang pemimpin, ia tidak segan-segan menegur bahkan menentangnya, meskipun orang itu adalah atasannya.
Suatu ketika, Khalifah Harun Ar Rasyid menunaikan ibadah haji. Agar pelaksanaan ibadahnya berlangsung dengan lancar, para pengawal mengosongkan tempat sa'i. Dengan demikian, ia boleh berjalan dan berlari kecil antara shafa dengan marwa dengan tenang tanpa perlu berdesak-desakan karena ia telah dikelilingi para pengawal.
Hal itu membuat banyak jamaah haji menjadi kecewa, namun tidak ada seorang pun yang berani menegur, apalagi menentangnya. Pada saat itulah, Abdullah membuka mulutnya dengan menyatakan bahwa tindakan itu sama sekali tidak benar. Para pengawal mendekatinya lalu berkata, "Wahai Abdullah, khalifah sedang sa'i dan tempatnya telah dikosongkan agar beliau melaksanakan ibadah dengan lancar."
Dengan tegas Abdullah menjawab, "Wahai para pengawal, bila Harun Ar Rasyid telah berada di masjid, dia sama dihadapan Allah, termasuk bersama budaknya. Bahkan, mungkin saja budaknya itu justru lebih utama dihadapan Allah."
Tidak heran, Abdullah langsung menerolios ke tempat sa'i, meskipun orang lain tidak ada yang berani melakukannya. Setelah keduanya selesai melaksanakan sa'i, Abdullah memanggil Khalifah dengan namanya saja sehingga orang-orang menoleh kepadanya. Harun Ar Rasyid sendiri mencari-cari orang yang memanggilnya. Setelah tahu siapa yang memanggilnya, maka ia menjawab, "Labbaik, aku sambut panggilanmu." Setelah itu, Abdullah meminta Khalifah untuk naik ke bukit Shafa. "Lihatlah ke Masjidil Haram."
"Aku telah melihatnya," jawab Khalifah.
"Berapa jumlah orang-orang yang sedang tawaf itu?," tanya Abdullah.
Harun Ar Rasyid menjawab: "Siapa orang yang sanggup menghitungnya?."
Abdullah kemudian berkata, "Wahai Harun, pada hari kiamat nanti mereka akan ditanya Allah mengenai diri mereka sendiri. Akan tetapi, engkau selain ditanya tentang dirimu sendiri, juga ditanya tentang mereka di dunia. Oleh karena itu, pikirkanlah bagaimana keadaanmu nanti. Demi Allah, bila seseorang berfoya-foya dengan hartanya, ia akan ditindihkan batu. Maka, bagaimana orang yang berfoya-foya dengan harta kaum Muslimin?."
Mendengar hal itu, ia merasakan bagai ditusuk jarum sehingga air matanya mengalir begitu banyak. la menangis sejadi-jadinya karena takut akan siksa Allah swt kelak.
Kepribadian Abdullah begitu berpengaruh pada diri khalifah Harun Ar Rasyid sehingga ia semakin berhati-hati memimpin mengingat tanggungjawabnya yang sangat besar.
Dari kisah di atas, pelajaran yang dapat kita ambil adalah:
1. Pemimpin yang menyedari tanggungjawabnya yang besar di dunia dan akhirat membuatnya sangat hati-hati dalam memimpin agar tidak melakukan penyimpangan.
2. Adanya kesedaran seperti itu bila sang pemimpin mau mendengar nasihat dan kritik dari siapapun.